Tidak Perlu Orang Lain
Nama maskapai penerbangannya Garuda Indonesia.
Sebuah maskapai flag carrier dari Indonesia. Bayangan setiap orang yang terbang menggunakan maskapai ini adalah penerbangan yang nyaman, mewah dan tidak pernah terlambat.
Itu anggapannya
.
Ada satu lagi maskapai lainnya. Namanya Lion Air.
Murah (begitu katanya, meskipun tidak selalu murah) dan jika tidak delay tidak Lion Air namanya.
Itu anggapannya
.
Kalau ia muda, dianggap kurang berpengalaman
Bila rambutnya beruban, dianggap terlalu tua
Kalau keluarganya besar, dianggap sebagai beban jemaat
Bila tak punya anak, ia tak bisa diteladani
Kalau suami/istri aktif, dituduh menonjolkan diri
Bila pasif, dianggap tak mendukung pelayanan suami/istri
Kalau khotbah sambil membaca, sangat membosankan
Kalau di luar kepala, itu tandanya tak mempersiapkan diri
Kalau ia melakukan pembaharuan dituduh sewenang-wenang
Kalau melanjutkan apa saja yang ada, ia dianggap boneka
Kalau khotbahnya banyak contoh, itu kurang alkitabiah
Kalau tidak khotbahnya terlalu tinggi
Kalau ia gagal menyenangkan hati seseorang, dianggap menyakiti hati jemaat
Kalau ia berusaha menyenangkan hati semua orang dianggap penjilat
Kalau ia terus terang di dalam kebenaran dianggap menyinggung perasaan
Kalau tidak, itu berarti ia pengecut
Kalau khotbahnya pendek, ia pendeta pemalas
Ia mesti bijaksana seperti burung hantu,
Gagah berani laksana rajawali
Bersedia makan apa saja kayak burung kenari
Ia mesti seperti seorang ekonom, politikus, pencari dana, penasehat perkawinan, bapak yang berwibawa, ibu yang mengayomi, sopir taksi yang ramah, orator ulung dan gembala yang aktif
Ia mesti melawat semua orang sakit, semua orang nikah dan semua orang mati.
Ia mesti bisa bergaul dengan semua anak-anak, remaja-pemuda, sampai orang tua
Ia mesti pandai berbicara dan menulis
Ia seorang pelayan yang harus mau merendah
Itu anggapan untuk seorang pendeta. (begitu menurut salah satu bacaan saat ibadah pengangkatan pendeta di salah satu gereja)
.
Pemirsa, berapa banyak anda punya anggapan-anggapan lainnya?
Saya punya banyak yang lain pemirsa.
Saya punya anggapan bagaimana seharusnya wanita itu bertingkah laku, bagaimana seharusnya orang tua membesarkan anaknya, bagaimana seseorang harus menggunakan hartanya, dan bagaimana – bagaimana lainnya.
Andai kata saya diberi 10.000 kata, tak bingung saya menghabiskan jumlah itu untuk menceritakan betapa banyaknya saya punya anggapan.
.
Sampai kemudian di suatu waktu, entah mengapa sepertinya harapan itu sangat sedikit yang terealisasi.
Menimbulkan pertanyaan “Do I set a higher standard while peoples live in their own life..not mine?”
Bisa jadi…
Bisa jadi seperti itu.
Bisa jadi standard itu adalah sesuatu yang menurut saya sempurna. Tidak bagi orang lain.
.
Berbarengan dengan hal itu, muncul sebuah pemahaman.
Bila ternyata orang lain tidak bisa hidup menurut standard ku.
Ternyata saya bisa hidup menurut standard itu.
Jadi saya bisa mengatur bagaimana saya harus menjalani hidup, bagaimana saya menggunakan uang, bagaimana saya memilih pasangan hidup dan sejuta bagaimana lainnya menurut standard saya.
.
Saya tidak butuh menjadi seorang rohaniawan untuk bicara tentang kasih
Saya tidak butuh menjadi seorang pelawak untuk menghadirkan keceriaan.
Dari pembicaraan santai tentang hidup sehari – hari dengan rekan, bisa menghadirkan tawa yang begitu dahsyat dan menggelegar.
Saya tidak perlu menunggu menjadi seorang tua untuk dapat berkarya dan punya kuasa.
Jadi, sebenarnya tak perlu orang lain.
.
Setiap anda dan saya bisa jadi apa yang ingin kita sebeneranya bisa menjadi kita ingini.
Begitu pemirsa menurut saya.
.
Well, finally it’s not really easy but it’s worthy for sure.
.
Seperti ada tertulis,
Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.
Recent Comments