Hujan Semalam
Sisa hujan semalam masih jelas tertinggal.
Tanpa perlu membuka mata, dia tahu langit masih menyisakan sedikit air matanya.
Bunyi rintik hujan terdengar samar di telinga. Cuaca sejuk mengarah ke dingin membekukan.
Posisi tidurnya tak lagi cantik seperti awal mula dia tidur. Dia yakin masih hujan di luaran sana.
Sebuah bantal sudah tergolek lemah di lantai.
Selimut sudah tak jelas membungkus bagian tubuh sebelah mana.
Posisi badannya melintang, diagonal dari sebuah sudut kasur ke sudut kasur yang lain di sisi yang berseberangan. Kepalanya sudah terbaring di tempat kaki berada tadi malam. Pun sebaliknya dengan kaki, berpose begitu angkuh di sisi kasur tempat kepalanya berada semalam.
.
Kasurnya tidak begitu tinggi. Hanya setinggi dengkulnya.
Sengaja dipilih kasur pendek itu, supaya kasur itu bisa digunakan sebagai tempat duduk, begitu pendapatnya.
Dari ukurannya, kasur itu bisa digunakan untuk dua orang. Sudah kisaran setahun belakangan ini, kasur untuk dua orang itu hanya dieksekusi oleh seorang dirinya.
Sadar kasur itu begitu luas, sebelum tidur dia katakan pada dirinya “silakan menikmati kasur ini semaumu tubuhku”, begitu ujarnya setiap malam sebelum tidur.
Walhasil, si badan seperti mendapat komando untuk berbuat semaunya saat si pemilik mata terlelap. Semua jengkal kasur dijelajahi.
.
Semalam, langit menumpahkan air begitu limpah. Dia pun kebagian air yang begitu limpah itu.
Air dari langit semalam begitu melekat pada sekujur tubuhnya.
Membasahi seluruh yang dia pakai, mulai dari jaket, baju, kaus dalam hingga badannya tak menyisakan barang setitik pun bagian kering.
.
Semalam, dia hanya pergi keluar rumah sebentar. Tak banyak perkara yang dia selesaikan semalam.
Seperti biasa, dia hanya keluar sebentar mengisi perut dengan makanan kesukaannya, nasi sate ayam di pinggiran kota.
Memang sedikit lebih mahal timbang sate-sate ayam yang lainnya.
Memang ada penjual sate ayam di dekat rumahnya.
Tak jarang, ada penjaja sate keliling, melintas depan rumahnya.
Semua tak dihiraukannya. Hanya sate ayam di pinggiran kota itu yang cocok dengan lidahnya.
.
Saat dia sedang makan sate ayam itulah, langit menumpahkan airnya.
Entah berapa juta liter air yang ada di langit sana. Dia hanya tahu bahwa sampai selesainya seluruh sate ayam yang terhidang di meja, langit masih terus meneteskan airnya.
Membuat dia sempat melintaskan pertanyaan, “siapa yang memegangi para awan itu?”, “berapa berat awan dengan air sebanyak itu?” dan “kenapa awan tidak jatuh ke bumi padahal membawa air begitu banyak di dalamnya?”
.
Dia tak langsung pulang seusai menikmati sate ayam itu.
Menunggu adalah aktivitas selanjutnya. Menunggu hujan reda.
Ia tak mau basah percuma.
Baju dan celana yang dikenakannya adalah baju baru. Baru dicuci maksudnya.
Baru diambil dari laundry baju kiloan samping rumahnya, dua hari yang lalu.
Masih segar. Masih harum pewangi pakaian favoritnya. Harum apel citrus.
Segar. Menyenangkan. Itu ucapnya kalau ditanya kenapa memilih aroma itu.
.
Dalam dunianya, segala sesuatu sepertinya menyenangkan dan harus menyenangkan.
Mulai dari pewangi pakaian, pilihan lagu dalam playlist ipodnya, foto-foto yang diunggah ke akun sebuah sosial media, jawabannya tentang hidup, sampai tetes hujan malam ini yang begitu arogan membasahi tanah dan motornya yang diparkir kedinginan di depan warung sate ayam pinggiran kota, semuanya menyenangkan di matanya.
.
Tiga puluh menit sudah seluruh hidangan bernama sate ayam itu berpindah ke perutnya.
Masih tersisa sedikit sekoteng yang tak lagi hangat dan setengah gelas air putih.
Sengaja tak dihabiskan minuman itu supaya dia bisa menunggu sedikit lebih lama di warung itu tanpa sedikitpun merasa bersalah.
Waktu terus berjalan.
Sekarang sudah empat puluh lima menit dia menunggu.
Sekoteng yang tak lagi hangat itu sudah tak bersisa. Diseruput habis dalam satu tegukan kira – kira tiga menit yang lalu. Tinggal air putih saja tersisa.
Rasa bersalahnya mulai timbul. Sepi pula suasana di warung itu.
Orang – orang yang makan bersamanya saat hujan tadi, sudah mulai bepergian.
Bukan karena mereka berani membelah hujan yang lebat. Bukan karena mereka tinggal dekat dengan warung sate ayam itu.
Mereka membawa kendaraan tertutup, beroda minimal empat dengan stir kemudi berbentuk bulat. “Ah, seandainya aku juga punya kendaraan tertutup itu” ujarnya dalam hati sembari menatap seorang pria dan wanita seumurannya pergi meninggalkan warung dengan santainya.
.
Tepat satu jam sepuluh menit dia menunggu.
Air hujan masih turun dengan semangat. Tak ada beda dengan saat awal mula mulai membasahi tanah.
Tak ada lagi alasannya untuk menunggu. Rasa bersalahnya sudah membuncah. Terlalu lama ku menunggu, ku harus segera pergi. Itu keputusan akhirnya.
Dihampiri meja kasir. Diselesaikan seluruh pembayarannya. Sebuah kantong plastik hitam pun tak luput dimintanya. Peralatan elektronik dan dompetnya dimasukkan ke dalam kantong plastik itu. Jaketnya dipasang rapat-rapat. Dia sudah siap untuk segera pulang.
Dengan gerakan secepat mungkin, dia berlari ke motor, menghidupkan motor dan segera meninggalkan warung sate ayam itu.
Satu tujuannya. Rumah.
.
Tak ingin berlama – lama lagi berkeliaran di luaran.
Hujan menghajar habis-habisan dalam perjalanan pulangnya.
Membasahi setiap jengkal tubuh dan motor tunggangan.
Tak ketinggalan, cipratan air dari sesama pengendara motor atau mobil yang berpapasan seperti berebut ingin membasahi dirinya.
Dua puluh menit kemudian, sampai lah ia di rumah nya. Tidak ada siapa – siapa di rumah itu. Hanya dia seorang diri. Basah kuyub. Kotor dan tak harum lagi.
Bergegas motor basah itu, dimasukkan ke dalam rumahnya.
Pun demikian dengan pemiliknya. Segera masuk ke rumah.
Mencuci kaki yang kotor, mengeringkan badan dan mengganti dengan baju lain namun aroma apel citrus yang sama.
“nah…kering juga akhirnya” ucap pada dirinya sendiri.
.
Kantung plastik yang tadi membungkus peralatan elektronik dan dompet sekarang sudah berpindah ke tempat sampah.
Dilihat sekilas peralatan elektronik dan dompet, kering sempurna. Dia tersenyum.
Lalu diliriknya jam dinding warna – warni di atas televisi.
Pukul 11.00 malam.
Diambilnya peralatan elektronik itu.
Terdiam sebentar.
Melihat kembali ke arah jam dinding. Jarinya mulai menari, menghujam peralatan itu.
“hai hai non. Sudah tidur dirimu?”
Send!!
10 detik kemudian
Delivered!!

Recent Comments