..Ngarep yukks..

Posted in Lesson of Life by fege on February 21, 2010

Melihat kalender, tiga minggu di bulan Februari dihabiskan di luar Balikpapan. Masih melihat kalender, bulan Februari pun hampir berakhir. Setelah berjalan dua bulan, perlu dilakukan modifikasi target 2010 seperti yang pernah ditulis di 2010 Wannabe.

Yang pertama dan terlintas adalah modifikasi target Forum Inovasi. Melihat ritme kehidupan saya sebulan terakhir dan memandang jadwal Forum Inovasi di depan, target yang satu ini perlu ditunda hingga tahun depan. Target yang lain? Emmm, yang lain masih bisa direalisasikan pada sisa waktu 2010.

Ok, cukup sampai disitu kilas balik dua bulan pertama di tahun 2010.

Lalu apa oleh-oleh mu anak muda?

Hehehe..ada beberapa oleh-oleh saya bawakan dari Pulau Nunukan dan Pulau Tarakan di Kalimantan Timur.

MAN JADDA WAJADA

Atau yang diartikan dengan “siapa yang serius pasti sukses”. Tulisan ini saya temukan di Gramedia Tarakan. Tidak tahu saya yang katrok atau Gramedia Balikpapan terlalu luas untuk dijelajahi sehingga saya tidak pernah menemukan buku dengan judul di atas di Gramedia Balikpapan.

Sudah lama saya baca tulisan tersebut di status Facebook seseorang. Saat itu tidak ingin tahu lebih lanjut. Karena saat itu (kalau tidak salah), Indonesia sedang dihebohkan oleh film Sang Pemimpi. Saya sih kira-kira saja, status orang tersebut palingan ya juga kutip beberapa kata dialog dari film Sang Pemimpi itu tadi.

Eh, ternyata bukan. Ya baru tahu kemaren itu saat di Gramedia  Tarakan. Ternyata sebuah judul buku. As usual lah, secara Gramedia itu sangat membatasi kegiatan “baca buku di tempat” dengan cara membungkus plastik semua buku, saya hanya baca sampul depan dan belakang saja.

Selain tulisan Man Jadda Wajada, kutipan di bawah ini tercetak pula di sampul depan

Penemuan terhebat dari masa ke masa adalah bahwa kita dapat mengubah masa depan hanya dengan mengubah sikap kita

–Oprah Winfrey–

Nah, tidak tahu saya yang aneh atau buku itu yang aneh, saya tidak tertarik sama sekali dengan buku itu.

Oooo iya, di bagian depan Gramedia Tarakan diletakkan rak kategori “ buku laris”, dan coba tebak buku apa yang terpampang di rak segmen “buku laris” tersebut.

Yang pertama adalah buku tentang kebebasan finansial, yang kedua adalah buku dengan genre berpikir positif. Masih sama seperti tulisan saya pada bulan Agustus 2009.

Saya tidak (mungkin belum) tertarik dengan metode berpikir positif ini. Begitu banyak buku tentang metode berpikir positif saya temui di Gramedia dan sampai saat ini, tidak ada gairah sama sekali untuk membacanya. Yang ada malah saya tersenyum lucu melihat buku tersebut.

Buku-buku sejenis itu pernah saya baca (tidak sampai habis memang) dan saya temukan bahwa buku-buku itu memberikan penjelasan yang lebih terperinci dari sebuah kitab (bahasanya apa yang enak ya? Kayak Biksu Tong aja istilahnya, “pergi ke Barat untuk mencari kitab”).

Nah, hasil perinciannya itu, dijual mahal dan justru lebih laku timbang si kitab. Tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Mungkin karena penjelasannya lebih sederhana, lebih aplikatif dan lebih terperinci sehingga tidak butuh penafsiran apa-apa. Cukup baca, telan dan laksanakan.

Beda halnya seperti kitab yang saya sebutkan di atas yang butuh penafsiran, penyesuaian konteks kalimat dengan kehidupan yang terjadi saat penulisan, kamus interlinear, latar belakang penulis, ensiklopedi sampai catatan kaki yang kadang bisa cukup banyak.

Balik lagi ke Man Jadda Wajada, sudah bukan rahasia lagi kalau anda mau sukses artinya harus serius. Mana ada coba sebuah usaha bisa berhasil kalau tidak di-seriusin. Aneh juga kalau ada orang berhasil tapi bilang dia hanya melakukannya sembari main-main. Bahkan “MAIN BOLA” yang dengan jelas mengandung kata main pun tetap membutuhkan keseriusan saat berlatih dan bertanding untuk menghasilkan kemenangan.

Bukan hal yang baru secara substansi tapi baru secara penyajian mungkin.

Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak.

Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.

Tiga kutipan diatas, saya ambil dari kitab yang saya sebut diatas. Sesederhana itu prinsipnya namun terlalu luas untuk diambil kegiatan aplikatifnya. Kenapa sederhana? Kutipan diatas tidak perlu tafsiran seorang akademisi. Apa yang anda kerjakan itulah yang anda dapat dan kerjakan hal itu dengan baik. Anda tanam nangka ya anda dapatkan buah nangka. Kalau anda tanam nangka anda harapkan berbuah duren, emmmm mohon maaf para pemirsa, itu belum ada disini. Kecuali dan jika hanya jika anda tempelkan itu batang pohon duren di pohon nangka, mungkin bisa tuh pohon nangka berbuah duren.

Meskipun sederhana, tiga kutipan diatas tidak memberikan petunjuk aplikatif yang harus dilakukan. Anda pernah beli alat elektronik macam printer atau hape. Disitu ada petunjuk dari pertama kali membuka kardus sampai tempat peletakan alat itu dan bagaimana cara kerjanya. Detail dan terperinci. Biarpun ditulis dengan bahasa yang anda tidak mengerti, gambar-gambar yang disertai sangat membantu inisialisasi awal peralatan tersebut. Jarang sekali buku petunjuk pemakaian itu mengatakan seperti ini

“Colok kan saja ke sumber listrik terdekat”

atau

“Terserah dah sampeyan mau pakai atau engga.

Yang penting ada aliran listrik, alat ini bisa dipakai”

Petunjuk diberikan rinci untuk memastikan alat bisa dipakai dengan sempurna dan sesuai peruntukannya.

Nah, buku-buku tersebut di atas, yang ditaruh di rak buku laris, mendefinisikan dengan baik dan terperinci apa yang harus dilakukan, bagaimana lanjutannya dan apa yang bakal terjadi. Tak lupa untuk semakin memanaskan suasana, diberi contoh orang yang sudah pernah mengaplikasikannya. Inilah daya tariknya. Contoh yang aplikatif jadi buruan para manusia.

Kalau mau dianalogikan, melakukan sesuatu dengan serius itu bagaikan pondasi saat membangun rumah. Semakin serius anda melakukannya berarti anda sudah menaruh pondasi yang semakin kokoh untuk membangun rumah anda. Perkara bila kemudian anda membangun rumah tersebut dengan batu bata, batako atau kayu sekalipun tidak mempengaruhi pondasi yang anda bangun tersebut.

Sekarang coba kita balik analoginya, kalau anda ingin membangun rumah dari batu namun pondasi yang anda letakkan hanya mampu untuk menopang bangunan dari kayu, yang anda dapatkan adalah penghabisan. Habis energi, habis uang dan habis waktu. Kalau anda mau hasil yang maksimal letakkan pondasi yang cukup kokoh untuk menopang hasil maksimal anda tersebut.

See…sesederhana itu saja kok pemirsa. Oleh dari itulah saya (belum) berminat membeli buku-buku semacam berpikir positif itu.

PENGHARAPAN

Nah setelah pondasi tersebut anda letakkan, anda pastinya punya dong bayangan rumah yang bakal anda bangun. Apa yang anda cita-citakan, apa yang anda perjuangkan, pastinya semua sudah terekam dalam otak anda. Ini lah yang menjadi bahan bakar untuk memperjuangkan segala sesuatunya. Jika rumah yang anda bangun belum sesuai dengan bayangan anda, proses perbaikan, penambahan bagian bangunan pasti dilakukan terus.

Begitu juga dengan kehidupan ini. Apakah sampeyan-sampeyan sudah punya gambaran apa yang sampeyan ingini? Walau kadang pengharapan itu sepertinya melakukan sesuatu yang hampa dan sia-sia, namun dalam sejarah, manusia masih terus berharap. Jadi tidak ada kerugian jika anda berharap. Toh semua manusia pernah dan sedang melakukannya. Anda tidak sendirian pemirsa dalam perkara harap berharap ini.

Pertanyaan macam “Ingin apa anda 10 tahun kedepan?” terkadang seperti pertanyaan yang berada di awang-awang dan milik orang-orang tertentu saja. Hanya untuk orang yang intelek dan pemikir atau untuk orang yang tidak lagi memikirkan masalah perut dan kehidupan sehari-hari.

Saya beri tahu saudara-saudara, anda-anda yang masih hidup di dunia ini, berhak untuk dapat pertanyaan ini. Karena untuk itulah anda hidup pemirsa. Apakah anda pikir hidup ini hanya mengalir saja? Orang yang jawab seperti itu, tahu bahwa aliran sungainya pasti ke laut. Nah sekarang yang jadi pertanyaan, apakah sungai anda sampai ke laut? Jangan-jangan sungai hidup anda mengarah pada sungai yang lebih besar. Tidak jadi soal mau mengarah kemana. Yang jadi soal adalah apakah sampeyan-sampeyan tahu kemana aliran air sungai hidup anda atau setidaknya pernah ingin cari tahu.

Ooo iya, teman saya Jeung Roose Diyah Purna Andari, tanggal 19 Februari kemarin dianugerahi tambahan umur  1 tahun lagi. Saya tidak tahu kalau dia ultah kemarin tanggal 19 Februari karena si mbak ini, menghilangkan kolom tanggal kelahirannya di tempat kita biasa bermain, alasannya, karena orang lain tidak ingin tahu dia tua.

Selamat ulang tahun hari kelahiran ya mbak. Saya tidak ucapin lewat wall facebook sampeyan. Saya juga tidak bisa kirim hadiah untuk sampeyan. Saya berharap yang terbaik untuk mbak oche saja ya. Secara berharap kan masih gratis..hehehe

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Advertisements

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. oche said, on February 23, 2010 at 8:32 pm

    sebagai kembaran dari mbak Roose Diyah Purna Andari, saya turut mengucapkan terimakasih. untuk doa khusyu di postingan ini, eh khusyu ngga sih, hahahaha.

    man jadda wa jada, ak uda baca buku yg mempopulerkan istilah ini (walopun sebelumnya uda populer, hihi)
    http://ocheholic.blogspot.com/2009/12/daily-quick-update-n5m.html


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: