Kebetulan?

Berapa kali kita sering mengucapkan kata kebetulan?

Saiah sering kali. Kebetulan adalah kata yang paling mudah dan paling cepat terlintas bila ternyata kita mendapatkan sebuah keuntungan.

Lagi lapar, eh tetiba ada teman mau traktir makan. Lagi ada duit lebih katanya. Kebetulan.

Bensin motor mau habis, kok ya pas ada yang jual bensin eceran. Kebetulan lagi.

Jalanan macet, mau ke bandara. Perkiraan sudah terlambat dan ditinggal pesawat. Sesampainya di bandara, lo ternyata pesawatnya delay. Tidak jadi ketinggalan. Apalagi alasannya, kalau bukan kebetulan.

Dan masih ada kebetulan kebetulan lain yang berseliweran di depan mata kita, kita rasakan pada keseharian hidup kita.

Lalu benarkah memang hidup kita ini penuh dengan rangkaian kebetulan (series of luck)?

Sampai saiah tercerahkan hari ini, saya masih mengganggap bahwa keuntungan, kebaikan dan hal indah lainnya yang tak diduga – duga adalah suatu kebetulan.

Mulai hari ini, saiah tidak percaya dengan adanya kebetulan.

Saiah sekarang mempercayai bahwa segala kebaikan yang terjadi adalah rencana Tuhan untuk kebaikan kita semua pada akhirnya.

Ingat ya.. pada akhirnya. Bukan pada awalnya atau pada tengah – tengahnya. Pada akhirnya.

Terlalu banyak rentetan kejadian baik yang terjadi hari ini untuk saya kategorikan sebagai rangkaian kebetulan.

Nuh membuat kapal tanpa pernah ada kejadian banjir sebelumnya. Ketika air bah datang, bukan kebetulan kalau ternyata Nuh dan keluarganya bisa selamat berkat kapal yang telah dibuatnya.

Bukan kebetulan bila ternyata Abraham dan Sara istrinya yang telah mati haid dianugerahi anak pada masa tuanya.

Apakah juga kebetulan yang sungguh indah bila ternyata Rut akhirnya diperistri oleh Boas setelah menjalani kehidupan yang demikian susahnya?

Bahkan apakah juga kebetulan apabila ternyata ada seorang buta yang sejak lahir kemudian disembuhkan oleh Yesus sebagaimana dicatat dalam Yohanes 9? Kisahnya cukup seru hingga orang buta itu sempat beradu pendapat dengan orang Farisi.

Seluruh rangkaian kejadian yang kita simpulkan adalah kebetulan, ternyata adalah bagian dari rencana Tuhan untuk kehidupan kita yang lebih baik.

Nah, sekarang kalau kita menyadari dan meyakini bahwa seluruh hidup kita bukanlah rentetan keberuntungan yang sambung menyambung menjadi satu maka dalam keadaan susah menderita berdarah – darah pun, kita akan punya keyakinan bahwa ini adalah bagian dari rencana Tuhan.

Seperti putaran roda, tak selamanya berada di atas. Akan ada masa roda berputar maka titik yang sebelumnya berada di atas akan berada di bawah. Demikian pula sebaliknya, bila saat ini berada di bawah maka akan tiba suatu waktu berada di atas.

Yang jadi permasalahan adalah kapan waktunya?

Waktu Tuhan tidak ada yang tahu. Bisa sehari bisa berpuluh – puluh Tahun. Abraham menunggu hingga umurnya 100 tahun untuk melihat anaknya lahir dari kandungan istrinya Sara, yang telah mati haid.

Manusia sering kali tidak sabar. Ingin segera memperoleh hasil. Dengan pikirannya merancangkan hal luar biasa yang justru berakhir hancur binasa. Dengan kekuatannya melakukan hal yang keren namun berujung bencana. Atau mungkin dengan sumber daya, posisi kedudukan, harga diri dan hal keren lain yang dimiliki, membuatnya bertindak terlalu jauh, melebihi wewenangnya seperti halnya Saul, Raja Israel, yang memimpin upacara pemberian persembahan kepada Tuhan (1 Samuel 13)

Jalan yang dirancangkan Tuhan mungkin berliku, sempit, susah, lama. Dan kita sebagai manusia tidak punya daya jangkau untuk melihat apa yang telah dirancangkan Tuhan.

Yang dinamakan jalan Tuhan pun terkadang masih meragukan. Tidak jelas. Membuat kita bertanya apakah ini benar jalan Tuhan atau jalan salah lainnya.

Doa puasa, konsultasi dengan orang yang lebih dewasa iman akan sangat membantu kita untuk menemukan apa yang menjadi maksud Tuhan pada kejadian yang kita alami.

Mungkin saja jalan berliku, sempit yang harus dilalui adalah karena kesalahan kita yang telah melenceng dari jalan Tuhan. Kebodohan kita sebagai manusia, nafsu daging yang telah dicemari dosa membawa kita ke jalan yang menjauh dari Tuhan sehingga Tuhan harus mengingatkan kita dengan penderitaan.

Kalau justru kemudian dalam keadaan susah itu kita lupa dengan Tuhan, tidak segera kembali kepada Tuhan, memohon hikmat dan kekuatan untuk menjalaninya maka bisa jadi kita akan semakin jauh, terperosok dan semakin memerlukan usaha yang lebih besar untuk kembali.

Jadi kalau mungkin saat ini anda dan saiah sedang dalam kesusahan, derita yang mendera, menyita waktu, pikiran dan harta (yang dari Tuhan juga), segeralah meminta tolong kepada Tuhan. Hikmat Tuhan akan membimbing kita mengambil keputusan, memberi kekuatan menjalaninya hari demi hari hingga akhirnya kita bisa tersenyum pada akhirnya.

Time frame harus di setting tidak terbatas. Karena Tuhan yang bekerja maka biarkan Tuhan yang menyelesaikan.

Lalu, bila setelah membaca tulisan ini, ada hal baik yang terjadi pada anda dan saiah.

Itu bukan kebetulan. Itu adalah rancangan Tuhan untuk hidup kita.

Supaya kita manusia boleh mengucap syukur buat anugerah yang Tuhan beri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s