Kasih Itu Mencari
Balikpapan, 12 Februari 2012.
.
Hari ini adalah hari minggu pemirsa.
Waktu yang tepat untuk tidak melakukan apa – apa selain pergi gereja.
Saya mengikuti ibadah pagi.
Selanjutnya makan siang, lalu pulang ke rumah.
Setengah jam di rumah, kantuk melanda.
Tidak ada perlawanan terhadap rasa kantuk.
Langsung saya putuskan untuk menikmati tidur siang.
Satu jam kemudian saya bangun.
Read more…
Bersepeda
Setahun belakangan ini, dia adiksi mengendarai sepeda.
Sepedanya baru, bisa dilipat.
Beroda dua. Tidak tiga. Apalagi empat.
Dibelinya di sebuah toko sepeda di daerah kota lama.
Warnanya merah muda mengkilat dengan keranjang barang di depannya berwarna kuning keemasan.
Indah dilihat. Mantap digenjot.
Nyaman dikendarai.
Top markotop sepeda itu.
Leaf 1
Tahukah kau?
Aku sedang tidak enak badan hari ini.
Cuaca kota ini sedang panas sangat.
Anehnya dalam panas ini, hidungku terus mengeluarkan cairannya.
Tak biasa. Luar biasa menurutku.
Cairan menyebalkan ini seharusnya hanya keluar saat musim dingin melanda.
Bukan saat panas menyengat seperti ini.
.
Hasilnya?
Setengah hari sukses kuhabiskan dengan memiringkan ke kanan dan ke kiri kepalaku.
Setengah hari mataku ingin selalu terpejam.
Teka Teki Silang
Sebuah surat kabar harian nasional berantakan di meja makan.
Meja itu telah mengalami alih fungsi.
Tidak ada sepotong makanan apapun di atas meja makan.
Ada kantung plastik yang entah bekas apa kantung itu. Ada kunci – kunci rumahnya.
Ada jam tangan pula.
Dan ada pula tumpukan buku bacaan yang tak pernah tuntas dibaca.
Dia suka membaca loncat-loncat seperti kangguru di padang. Loncat kesana kemari.
Aktivitas membacanya pun aneh. Membaca dari bagian belakang buku baru ke depan. Seperti hewan undur – undur yang berjalan kebelakang.
Mungkin itulah kenapa tidak pernah tuntas sebuah buku dibacanya.
Dia sudah tahu apa yang akan menjadi akhirnya. Tidak sabar.
Terburu – buru ingin menyesap kenikmatan.
.
Hujan Semalam
Sisa hujan semalam masih jelas tertinggal.
Tanpa perlu membuka mata, dia tahu langit masih menyisakan sedikit air matanya.
Bunyi rintik hujan terdengar samar di telinga. Cuaca sejuk mengarah ke dingin membekukan.
Posisi tidurnya tak lagi cantik seperti awal mula dia tidur. Dia yakin masih hujan di luaran sana.
Sebuah bantal sudah tergolek lemah di lantai.
Selimut sudah tak jelas membungkus bagian tubuh sebelah mana.


Recent Comments